Usaha Kecil Untuk Menjadi Sedikit Bahagia

Hari makin pendek, juga tidak ada absen dari peluk guling kencang-kencang atau bantal yang basah karena air mata. Sungguh satu tahun yang naik turun, bulan-bulan kelam, dan menit-menit penuh kesesakan. Buku dan manga memang mencerahkan, tetapi ada satu titik di mana semuanya terasa hambar dan yang bisa saya lakukan hanyalah tidur sebanyak-banyaknya. Klise sekali sebenarnya memanggil potongan-potongan memori satu tahun terakhir, tetapi pikiran saya saat ini hanya berisi hal-hal soal membaca. Mungkin tulisan ini adalah usaha kecil untuk kembali menyemangati diri betapa lekatnya menit-menit saya dengan membaca dan rasa nyaman yang sering muncul karenanya. Ya, ini usaha kecil untuk menjadi sedikit bahagia di hampir akhir 2018, seperti ibuprofen 800 gram yang dibutuhkan pada hari pertama menstruasi.

P_20181224_091049.jpg

Jakarta panas seperti biasa. Malam itu, saya sedang bosan dengan novel dan cerpen. Terlalu banyak kata-kata membuat saya beberapa kali tersesat di dalamnya. “Kamu lagi baca manga apa?” Sebuah pertanyaan biasa yang beberapa kali saya ajukan ke Bram karena dia lebih fasih soal komik. The Promised Neverland–cerita soal manusia versus non-manusia yang tidak asing jika terekspos dengan Attack on Titan atau Tokyo Ghoul. Baru beberapa hari lalu saya membaca episode paling terbaru, perlahan tabir soal Minerva sang penyelamat itu muncul. Percayalah, episode itu langsung memunculkan kecurigaan yang familiar soal arah plot. Konspirasi model apa lagi yang akan muncul?

Di tengah minggu-minggu membaca The Promised Neverland, saya pernah melempar sebuah buku dari tempat tidur. Kura-Kura Berjanggut. Lemparan itu tidak kencang, tapi cukup membuat buku tebal itu berbalik. Sembilan ratus halaman dan saya berakhir dengan perasaan janggal yang tidak ada hubungannya dengan kisah kerajaan Lamuri dan hamparan samudera raya abad enambelasan itu. Sesaat itu juga saya bertanya-tanya soal reservasi waktu, energi, dan fokus yang tidak mudah; dan apakah masih mungkin membaca novel-novel semacam (dan sepanjang) ini di tahun-tahun ke depan? Sial.

“Ku memutuskan binge reading Osamu Dazai waktu winter break,” kata saya kepada seorang teman di penghujung bulan. Judul-judul buku Dazai sudah bertengger di daftar saya selama berbulan-bulan, di antara nama-nama penulis Jepang lainnya. Sepertinya saya sedikit terlambat, karena rasa suka lama yang dipendam bertahun-tahun tidak mudah untuk dibuka kembali tanpa menjadi pahit. “Ananda Eunike memiliki kemampuan untuk menempuh jurusan bahasa dan sastra,” kata tes bakat dan minat sembilan tahun yang lalu. Semester kedua tahun pertama kuliah, setelah pulang dari kelas Bahasa Jepang di kampus, saya menelepon papa menangis-nangis ingin pindah jurusan. Tentu berakhir dengan gelar sarjana politik dan keputusan-keputusan konformis berikutnya; seperti sebuah panggilan untuk bertahan hidup. Mungkin menjadi tahu apa yang kita inginkan sejak dini adalah kemewahan. “Now [s]he is standing here, balancing the weight of unfulfilled dreams with what [s]he has lost.” Kobo Abe sejenis tepat.

Apa itu sejarah? Bla bla bla bla bla. Ah narasi Walter Johson di buku Soul by Soul bagus sekali, juga The Straight State-nya Margot Canaday. Oh ingat tidak semua orang bisa seperti William Cronon yang seminar papernya bisa (berkembang) menjadi buku. Saya suka cerita kerajaan nyamuk dan nyamuk yang “berbicara.” Tidakkah sejarah pembentukan hukum pelarangan vodoux di Haiti dapat masuk sebagai sejarah sains? Kamu perlu baca Boeke dan Furnivall. Apa itu sejarah? Bagaimana sejarah? Kapan sejarah? Perhaps i’m reading it wrong and i have writing issue. Cerita Menocchio seperti cerita detektif. Distribusi beras pasca kemerdekaan sungguh menegangkan. “A man,” tulis Tuong Vu, “thinking with a Japanese head but walking with Javanese legs.” Tidakkah keinginan kita memahami kenyataan, entah di masa lampau pun sekarang, membutuhkan serangkaian usaha yang sistematis? Saya tidak tahu harus mulai dari mana kecuali dari membaca.

Reading as an act of desperation. Reading as an act of discipline. Maka jika ada rasa-rasa senang yang tersisa dari membaca, sedikit saja, sepertinya cukup. Apakah ini meromantisasi? Apakah banyak cara yang berusaha saya lakukan untuk menjadi pembaca (lebih) baik pada akhirnya menuju nihil karena toh apalah arti menjadi pembaca? Langkah-langkah penuh gairah dan semangat dalam mengerjakan sesuatu seringkali terbentur oleh kondisi-kondisi lain, baik itu yang acak maupun terstruktur. Maka jika memang saya harus kembali mengklaim bahwa saya menyayangi membaca–demi tahun-tahun ke depan yang lebih bersemangat (juga waras)–saya memilih untuk membisikkan kata-kata Qiu Miaojin. Love prudently, love realistically.

Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 33 – Melihat Pemuda dalam Sejarah

Salah satu alasan utama mengapa saya tidak sesegara itu membaca buku PESINDO: Pemuda Sosialis Indonesia, 1945-1950 (2016) karya Norman Joshua Soelias ketika buku ini diterbitkan dua tahun lalu adalah ketidaktertarikan saya membaca sejarah politik nasional. Mengingat waktu itu saya sendiri belum berusaha menjadi mahasiswa sejarah, sepertinya juga tidak terlalu banyak insentif untuk membaca buku PESINDO. Saya mengungkapkan hal ini kepada Norman, yang kebetulan juga kolega saya: betapa “keringnya” sejarah politik Indonesia dari sisi penulisan narasi dan betapa sulitnya membahas revolusi tanpa menjadi tersesat dalam saling-silang kepentingan. Tingkat kompleksitas dalam sejarah politik Indonesia ini selalu mendemotivasi saya untuk membaca buku-buku sejarah bertema politik. Tapi toh jika ada satu hal yang saya pelajari selama beberapa bulan terakhir, ada banyak literatur, yang meskipun bukan minat bidang kita, tetap perlu dibaca. (Percayalah kalimat terakhir ini sepertinya adalah keniscayaan dalam urusan akademimik).

P_20181211_123917.jpg

Dalam buku PESINDO, Norman memperkenalkan kita pada sebuah organisasi pemuda yang sebenarnya cukup besar dan sistematis di eranya. Dengan ideologi berhaluan kiri, organisasi ini mampu menghimpun ratusan ribu anggota dengan kegiatan yang sangat menyeluruh, dari penerbitan majalah, propaganda radio, pendidikan politik, diplomasi internasional, juga kelaskaran yang diperbantukan untuk gencatan senjata. Peran oposisi “korektif” dan “konstruktif” berusaha diemban oleh Pesindo, dan tentu tidak semua anggotanya sepakat. Nantinya, keterlibatan beberapa anggota dalam Front Demokrasi Rakyat juga perubahan ujud Pesindo menjadi Pemuda Rakyat menjadi titik kritis dalam perkembangan politik Indonesia.

Dalam kata pengantarnya, Bang Andi Achdian telah menerangkan posisi buku PESINDO dalam historiografi revolusi Indonesia dengan sangat baik. Saya pikir, menempatkan perkembangan gerakan Pesindo dalam konteks relasi militer-sipil adalah salah satu take out yang cermat. Saya sebenarnya lebih banyak memerhatikan jejaring dan kerja diplomasi anggota Pesindo. Kemampuan anggota menghimpun massa dan kerja-kerja kelaskaran, adalah satu hal, tapi rantaian pemikiran dan ide soal revolusi bagi saya sangat menarik. Kelahiran Pesindo bukan serta merta, benih-benih pergerakan di dekade sebelumnya telah tertanam, menyebar, dan berkembang.  Norman menunjukkannya dengan sangat rapi, mengantar pembaca pada runutan peristiwa yang memungkinkan organisasi seperti Pesindo lahir.

Dengan bias latar belakang hubungan internasional, saya sebenarnya cukup tertarik dengan kerja diplomasi Pesindo yang dijabarkan oleh Norman. Saya pikir fragmen keterlibatan anggota Pesindo di beberapa forum internasional menunjukkan elemen penting dari sebuah gerakan pemuda: jaringan solidaritas internasional. Fragmen ini mungkin bukan menjadi inti buku PESINDO, karena pergolakan domestik dan konflik internal di dalam organisasi lebih banyak disorot. Namun mengingat bahwa ada koneksi internasional dalam tubuh organ Pesindo, yang mungkin tidak intensif dan terbatas, kita paling tidak jadi paham bahwa usaha-usaha pengakuan kedaulatan di era revolusi pun dikerjakan bukan cuma oleh para diplomat dan menteri resmi, tapi juga oleh organisasi publik.

Salah satu bagian dari buku ini yang sangat menarik bagi saya adalah bagian epilog di mana penulis sedikit bercerita tentang Francisca Fanggidaej, Cerita beliau, sepak terjangnya dalam politik revolusi seperti ingin mengatakan banyak hal soal pengalaman individu dalam kerja-kerja organisasi. Saya pikir asosiasi kekeluargaan penulis dengan Francisca adalah premis tersendiri soal warisan intergenerasi. Bang Andi juga telah menyatakan ini di paragraf pertama Pengantar, juga bagaimana Norman kemudian menelusuri cerita soal pemuda di era revolusi. “Setiap generasi menulis sejarahnya sendiri.”  Saya sepakat.

Selama membaca, ada banyak pertanyaan lanjutan yang muncul di kepala saya. Seperti misalnya bagaimana detail perdebatan pemikiran antar para anggota Pesindo, atau juga bagaimana proses transisi Pesindo ke Pemuda Rakyat berpengaruh terhadap keseluruhan pergerakan pemuda di masa itu. Saya juga jadi bertanya-tanya soal pola dan tren organisasi pemuda di era pasca Perang Dunia II, termasuk gelombang gerakan dan pemikiran anti-kolonial yang mulai muncul.  Meskipun Pesindo diklaim sebagai organisasi paling sistematis di Indonesia, saya jadi berpikir komparatif apakah organisasi serupa, terlepas dari fitur semimiliter yang disinggung oleh Bang Andi, pun ditemukan di bagian negara Asia yang lain. Dalam konteks diplomasi, saya pikir eksplorasi terhadap peran pemuda dalam kerja-kerja internasional tetap perlu untuk dilihat, meskipun menurut Harry Poeze, seperti yang dilansir Norman, sejarah diplomasi di era revolusi sudah habis dibahas oleh buku Ragna Boden yang terbit dalam bahasa Jerman. Saya pikir justru dengan sumber yang sama, penambahan narasi diplomasi dalam konteks sejarah intelektual dan organisasi dapat memberikan tambahan gagasan. Mungkin.

Mengangkat skripsi S-1 menjadi sebuah buku tentu memiliki kekuatan dan keterbatasannya sendiri. Di satu sisi, tidak banyak sejarawan muda baru lulus bisa memiliki kesempatan dan kemewahan untuk menghasilkan karya yang dikerjakan oleh Norman. Tentu ini sangat perlu diapresiasi; seperti ada harapan melihat mungkinnya generasi muda memulai banyak hal baik lebih dini. Di sisi yang lain, ada pertanyaan soal perkembangan sejarah publik. Buku PESINDO bisa diklaim menjadi buku pertama yang membahas organisasi Pemuda Sosialis Indonesia, ada kebaruan empiris yang layak dirayakan. Tapi apakah pada akhirnya ia akan terjebak sebagai fakta baru tanpa kerangka analitis? Tentu pertanyaan-pertanyaan saya soal buku ini bukan sebuah ekspektasi agar penulis membahas atau harus menggunakan kerangka pertanyaan tertentu. Bagi saya, buku yang baik adalah buku yang tidak final dan bisa membuat pembacanya berpartisipasi lewat kebingungan dan pertanyaan. Maka ulasan penuh pertanyaan ini mungkin adalah salah satu cara untuk berpartisipasi dalam kerja penelitian sejarah berikutnya.

Terlepas dari itu semua, buku PESINDO layak menjadi bacaan pengenal tentang mekanisme gerakan pemuda juga benih-benih radikalisme (ideologi apapun) yang muncul dari gerakan tersebut. Para pemuda itu ada di sana, juga di sini.