Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 27

A History of Reading – Alberto Manguel 

Sebagai seseorang yang pernah dekat dengan  membacakan buku-buku pada Borges, Alberto Manguel tentu memiliki pengalaman membaca yang tidak biasa, dan mungkin memang pengalaman itulah yang membuat Manguel memiliki kedekatan erat, tidak hanya dengan sastra, namun juga the act of reading. Buku ini cukup tebal dan berisi banyak sekali cerita tentang membaca dari zaman kuno hingga kontemporer, dari batu, codex, gulungan, hingga paperback, dari membaca bersuara ataupu diam. Semuanya itu ditumpuk oleh Manguel dalam bab-bab, yang ketimbang kronologis dan periodikal, lebih berupa sintesis dari sebuah ide yang ingin ia sampaikan. Dalam hal ini, saya cukup menikmati cara Manguel menceritakan banyak hal: tentang bagaimana bapak-ibu gereja di abad-abad mula, tentang para buruh pabrik rokok di Kuba yang berbagi bacaan, juga tentang cara Kafka membaca, bagaimana para perempuan abad pertengahan mencari akses untuk bacaan, penerjemahan, dan lain-lain seputar dunia literatur.

Saya pikir Manguel bukan cuman ingin sekedar memberikan semua fakta-fakta itu, tapi ingin memberikan wawasan soal bagaimana membaca bukan sesuatu yang terberi. Seiring dengan peradaban manusia, membaca bukanlah kemudian hal yang asing dari aktivitas sehari-hari. Ya, membaca bermula dari para elit, dan mereka yang memiliki akses terhadap sumber-sumber terdahulu (misal bapak-bapak gereja). Namun buku ini memnyajikan fitur spesifik soal dinamika yang terus berubah seiring dengan perjalanan budaya manusia. Saya pikir buku ini juga berhasil memberikan gambaran tentang apa itu membaca; bagaimana cara membaca pun menjadi perbincangan, mana yang lebih baik–bersuara atau diam, membaca kolektif atau sendirian, membaca dengan pengertian maupun adakah sebenarnya kesalahan membaca.

Membaca buku ini sebenarnya seperti melihat orang yang sedang terpesona dan tergila-gila dengan membaca. Manuel meromantisasi membaca, dan beberapa paragraf di mana ia menceritakan pengalaman membacanya dengan cukup puitis mengingatkan saya pada post-post tumblr tentang membaca. Tentu saya tidak keberatan. Sebagai orang yang cukup menyek dan terkadang emosionil soal membaca, banyak hal yang membuat saya mengangguk-angguk. Dan saya pikir pun Manuel cukup koheren dengan tidak mengabaikan hal yang struktural dari kegiatan membaca. Kalau mungkin sedikit curiga buku ini mengadiluhungkan membaca, saya pikir memang ada tendensi demikian. Cuman ini pun tergantung dari cara membacanya. Menyelesaikan buku ini justru bisa membuat tidak bersemangat untuk memuliakan membaca, karena intuisi membaca hanyalah satu kecil bagian untuk mempertanyakan urip yang lebih besar. Saya sepakat dengan Kafka, “A book cannot take the place of the world“, ia hadir sebagai medium bukan substitutsi. A History of Reading justru membuat saya tidak berfokus pada kemuliaan membaca, namun pada dunia di seputarnya yang lebih besar lagi, tentang pertemuan lintas waktu antar manusia lewat teks dan kenangan, tentang hidup dan esyelelenya yang ruwet itu. Ehehehe.

20180331_194345

On Being Blue: A Philosophical Inquiry – William H. Gass

Biru. Biru. Biru. Biru. Biru. Hoaaaaam. Biru. Biru. Seks. Biru. Melihat. Biru. Fuck. Biru. 

Mungkin jika bisa direduksi, itulah inti buku yang menurut saya cukup sulit ini. Saya pikir Gass memiliki cara yang sangat unik untuk berbicara Biru, sebagai sebuah warna, nuansa, simbol, alusi. Bahkan dengan tengilnya ia memainkan pengucapan kata blue dengan blow, bleau, dan menariknya ke bagaimana frase-frase makian menjadi enak untuk diucapkan sekaligus memiliki daya hina yang hamlelah. Saya juga menyukai bagian ketika ia membahasa tentang ilusi mata terhadap cahaya yang mampu membuat manusia menangkap warna biru, tapi–seperti di internet heboh soal baju hitam atau emas–mata kita pun menipu. Pertanyaannya, mana yang bisa dipercaya? Ta ta ta tapi, fragmen-fragmen buku ini mulai terbayang di bagian tengah buku. Bagian awal buku ini sulit sekali untuk diikuti, mungkin juga karena Gass memulai esainya dengan dengan referensi-referensi yang saya kurang familiar. Saya harus berkali-kali mencari tahu apa yang ia maksud, dan akhirnya malah kewalahan sendiri dan memutuskan untuk lanjut terus saja. Saya baru ngeh di bagian tengah akhir di mana Gass mulai lebih ringkas menjelaskan pemikirannya. Saya sarankan kalau mau membaca buku ini, persiapkanlah waktu dan energi lebih, karena meskipun pendek (hanya sekitar 80-an halaman), buku ini tidak dapat ditelan sekaligus. (Yang pasti ku makin yakin kalau komik Poputepipikku adalah panggilan uripku ehe)

 

Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 26

Pemberontakan di Pelabuhan – Alexandru Sahia (Penerjemah: Koesalah Soebagyo Toer, Pataba Press 2017)

Alexandru Sahia adalah seorang jurnalis dan penulis komunis dari Rusia yang tidak pernah saya dengar sama sekali sampai minggu lalu saya mendapatkan kumpulan cerita ini selepas acara Memento dari Pram dan Koesalah di Gereja Komunitas Anugerah. Membaca buku ini tentu tidak dapat menyangsikan profil politik Sahia, dan tulisan tambahan dari penerbit dan penerjemah sungguh memberikan kisah latar apik tentang Sahia sekaligus kepercayaannya akan hari kemenangan proletar. Buku ini terdiri dari empat cerita saja: “Hujan Juni” menceritakan kondisi petani yang terlilit hutan dan terancam dirampas tanahnya, dan tiga cerita lainnya, “Pemberontakan di Pelabuhan”, “Pabrik yang Bernyawa”, dan “Matinya Seorang Rekrut” adalah tentang kondisi kerja para buruh dan perlawanan mereka. Cerita-cerita ini menjadi sangat kuat dalam pesan politik, namun juga memiliki gaya dan teknik menulis yang mengesankan. Misalnya, di “Hujan Juni”, penggabungan nuansa alam yang kering dengan kondisi kepayahan kerja membuat cerita tentang kesulitan-kesulitan–baik itu panen, kerja, maupun proses kelahiran–menjadi sangat kuat. Dalam “Pabrik yang Bernyawa”, detail-detail suasana seperti “Ia berjalan seperti dewa di atas awan uap beracun yang tebal” membangkitkan indra tentang kehidupan pabrik yang keras. Hari depan memang harus direbut, kamerad!

20180325_150747.jpg

Yami ni Hau Mono, The Haunter of the Dark – Tanabe Gou, H. P. Lovecraft 

Jika pembaca sejawat penyuka cerita-cerita horor H. P. Lovecraft, harus banget cek adaptasi manganya. Wah edan, waktu Bram memberi tahu soal manga Tanabe Gou ini, saya langsung kegirangan dan memang sungguh ntapsoul. Tanabe Gou menceritakan ulang beberapa cerita dalam Mitos Cthulhu dengan cara yang sungguh yawla apik. Dagon, si dewa ikan dan monster tiga mata itu digambarkan bersamaan dengan narasi akan ketakutan manusia. Imajinasi H. P. Lovecraft, menurut saya, berhasil diterjemahkan secara visual oleh Tanabe Gou dengan tepat: gelap, dingin, di mana ketakutan manusia dan refleksi-refleksi di dalamnya adalah pusat narasi.

A Universal History of Infamy – Jorge Luis Borges

Saya pikir sudah banyak yang tidak asing dengan karya Borges ini. Yaw maklumkan saya pembaca loncat-loncat, jadi sebenarnya baru saja menyelesaikan kumpulan cerita ini. Tentu sedikit berbeda dengan tema-tema cerita Borges yang lebih terkenal lainnya, tapi saya terkesan dengan ide Borges yang menceritakan ulang kembali tokoh-tokoh yang ia temukan dalam buku sejarah. Kumcer ini terdiri dari tujuh cerita pendek dan delapan cerita lebih mini di bawah sub Etcetera. Dari perompak, geng mafia di Mexico, atau pertempuran Ronin di Jepang. Borges memang pencerita yang baik, tapi pun lebih dari itu ia pembaca yang baik. Imajinasinya sebagai pembaca mampu mengisi ruang-ruang kosong dalam peristiwa dan keahliannya sebagai penulis membuat peristiwa menjadi asik untuk dibaca ulang dan disebarkan. Sejarah tidak lagi menjadi fakta kering, tapi juga dihidupkan lewat cerita. Saya paling suka cerita “The Insulting Master of Etiquette Kôtsuké no Suké” (sungguh tidak ada yang lebih menegangkan daripada pertarungan harga diri), “The Masked Dyer, Hakim of Merv” (rasa-rasa magisnya yawla), dan “A Theologian in Death” (memang yang paham gusti bisa dengan mudah jadi kawan sang iblis).

Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 25 – Ibuku di Surga

Ibuku di Surga – Koesalah Soebagyo Toer (Pataba Press 2017)

Di awal buku Bumi Manusia, Pramoedya menulis, “Cerita … selamanya tentang manusia, kehidupannya bukan kematiannya.” Ibuku di Surga adalah tiga cerita tentang kehidupan manusia, dengan latar masyarakat pada akhir kolonial Belanda dan awal kedatangan Jepang. “Keluarga Pak Wirya”, “Ibuku di Surga”, dan “Ketika Jepang Datang” adalah tiga cerita yang semuanya berpusar pada cerita keluarga. Ketiga cerita tidak terpisah dan saling bersinggungan. Pengantar pendek dari Penerbit memberi cuplikan yang baik tentang keseluruhan tema cerita, juga tentang bagaimana penglihatan anak berumur 7-8 tahun mampu menangkap tajam dan jernih apa-apa yang terjadi di sekelilingnya. “Anak adalah filsuf yang pertama”, kata pengantar penerbit, dan Liliek, si “aku”, adalah sang filsuf itu, yang melihat banyak hal dengan kepolosan dan tak jarang juga dengan tanda tanya.

20180318_181734.jpg

Buku Ibuku di Surga dimulai dengan cerita “Keluarga Pak Wirya”. Suara Liliek, sang narator, dimulai lewat pertemanannya dengan Rani yang berlangsung biasa saja seperti anak-anak pada umumnya: ajakan bermain petak umpet dan dolan ke rumah. Penangkapan Liliek yang jujur terhadap apa yang ia lihat dan persepsikan—misalnya komentar polos seperti “Selama ini saya pandang Rani hanya sebagai anak miskin”, atau “Rumah itu paling jelek di kampung saya—pendek, kecil, dari gedek,”— memberikan petunjuk tentang kondisi ekonomi Rani dan keluarganya. Lebih lagi dalam perjalanan cerita, kita bisa tahu kesusahan keluarga Rani, juga permasalahan utang yang mencekik Bapak dan Mbok Wirya, orang tua Rani. Kisah ini berakhir dengan pasangan Wirya menjatuhkan diri ke dalam sebuah sumur, dalam jangka waktu yang berbeda; sebuah keputusasaan dan ketidakberdayaan yang berujung pada keengganan melanjutkan hidup.

Cerita kedua “Ibuku di Surga” menceritakan tentang cerita sehari-hari Liliek bersama dengan ibunya. Dari potongan-potongan peristiwa yang sederhana, Liliek menampilkan sesosok perempuan yang lemah lembut dan penuh sayang pada anak-anaknya, namun tanpa romantisasi berlebihan. Hubungan Liliek dan ibunya, beserta dengan relasi orang-orang di sekitarnya hadir apa adanya; ada rasa hangat, ada juga kekesalan khas anak kecil. Misalnya ketika ibu tidak membolehkannya makan sisa parutan kelapa (kriwilan) banyak-banyak, dan ia berpikir apakah besok bisa meminta pada Pak Wirya. Cerita ini juga menjadi petunjuk hubungan keluarga Pak Wirya dengan keluarga Liliek; bahwa ternyata kondisi keluarga Liliek secara ekonomi lebih baik dari Pak Wirya. Namun ibu Liliek memberi contoh ajar tentang kemulian kerja dengan mempekerjakan Pak Wirya untuk mengunduh kelapa atau beberapa perempuan lainnya untuk memasak. Cerita ini membuat saya makin memahami posisi Liliek terhadap Keluarga Pak Wirya di cerita yang pertama.

Terakhir, “Ketika Jepang Datang” adalah bagian yang menurut saya paling ruwet di antara ketiganya. Tidak hanya soal kedatangan Jepang yang menyebabkan keributan di desa tempat Liliek tinggal, tapi juga ada konflik antar warga dalam potongan peristiwa pengeroyokan seorang Mantri oleh massa dengan kata kunci “dosanya lebih besar dari Belanda”, atau juga terjadi penjarahan terhadap toko-toko Tionghoa. Semua itu terjadi di saat ibu Liliek sedang terbaring sakit. Namun di tengah semua kondisi itu, kepolosan Liliek tetap hadir. Ketidamengertiannya soal “surga”—tempat ibunya berada—membuat Liliek tak banyak bersedih meraung-raung seperti kerabat-kerabat keluarganya; ia bahkan menangis karena bingung orang-orang di sekitarnya menangis! Hingga akhir cerita, tidak ada penyelesaian atau resolusi khusus tentang bagaimana Liliek merespon itu semua. Bahkan dari pengamantan Liliek, sebuah pertanyaan besar muncul; apa yang sebenarnya terjadi pada Tante Yati, salah satu kerabatnya, yang ketakutan setengah mati ketika tantara Jepang sedang patroli di rumah Liliek?

Dari ketiga cerita ini saya seperti mendengar cerita Mbah Kakung dan Mbah Putri saya sendiri; tentang kedatangan Jepang, tentang kondisi-kondisi kala itu, juga tentang nasehat tak boleh makan parutan kelapa terlalu banyak. Mata Liliek yang polos membantu saya turut mengenang peristiwa lampau, yang tentu meskipun tidak saya alami langsung, memberikan pemahaman soal kenyataan. Bahkan menurut saya, posisi Liliek adalah posisi tepat untuk melihat banyak hal. Semisal, apa-apa yang Liliek dengar dan lihat tentang “Keluarga Pak Wirya” tidak membuatnya kemudian menjadi pahlawan dengan beban moral untuk “menyelamatkan” atau “membantu” Rani. Liliek tidak berusaha menjadi pahlawan; ia lebih banyak mempertanyakan sesuatu yang tidak ia mengerti, seperti ketika ia melihat Pak Wirya tidak duduk di kursi sama seperti Pak Suman padahal masih bersaudara, dan berempati pada Rani ketika ibunya meninggal. Reaksi dan respon Liliek hadir apa adanya, dalam kebingungan, dalam ketakutan, juga sering kali dalam ketidaktahuan murni. Lewat percakapan-percakapan yang didengar oleh Liliek, interaksi para tetangganya, juga apa yang dilihatnya langsung, Liliek menjadi pencerita yang lempeng, tanpa dramatisasi, namun justru dari situ kita dapat melihat letak kejernihannya.

Cerita tentang masyarakat dalama suasana perang, konflik, kemiskinan, juga permasalahan keluarga selalu menjadi tema yang membuat kita, orang dewasa, terganggu ketika naratornya adalah seorang anak kecil. Kepolosan, kepahitan, kesedihan, bahkan tak jarang kebahagiaan diceritakan begitu saja tanpa interpretasi, tanpa pemikiran dalam, tanpa frase-frase didaktik yang menggurui. Keruwetan hidup manusia tidak untuk direnungi, tidak juga untuk dirayakan ataupun diratapi habis-habisan. Mata seorang anak membantu kita untuk lebih banyak melihat dan mendengar, kemudian bertanya, terus bertanya mengapa hal ini terjadi, mengapa hal itu terjadi. Inilah salah satu hal yang saya pelajari dari buku karya Koesalah ini: soal kejernihan dalam melihat banyak hal.

Namun terlepas dari kejernihan mata seorang anak, saya juga menangkap hal yang tidak kalah penting lagi, bahkan bisa jadi juga lebih penting: kemampuan Liliek melihat tak lepas dari hadirnya seorang perempuan dengan keteguhan dan kasih. Awalnya, saya sempat bertanya-tanya mengapa cerpen kedua berjudul “Ibuku di Surga” tapi isi ceritanya adalah tentang ibu Liliek ketika masih hidup? Sampai akhirnya saya berusaha menyimpulkan bahwa ini adalah bentuk pengenangan seorang anak di tengah lintasan waktu sejarah yang tak sepenuhnya ia mengerti. Di cerita “Ketika Jepang Datang”, Liliek terlibat di banyak peristiwa, dan terdapat satu bagian di mana ia mencari kehangatan ibunya yang akhirnya tak ia temukan. Dalam kemandiriannya melihat, ada “ketergantungan” untuk merasakan dan mengenang ibunya. Dan bagi saya hal ini menunjukkan wujud kemanusiaan yang mendasar: kebutuhan akan kasih ibu yang memadukan kelembutan dan ketegasan, apapun bentuknya.

Sebagai poin terakhir, latar sejarah tidak menjadikan cerita-cerita dalam buku ini terbeban oleh data sejarah. Jika boleh jujur, kecuali secara eksplisit ada keterangan mengenai perang (dengan menyebutkan Belanda atau Jepang), saya tidak terlalu banyak menemukan kontras deskripsi suasana masyarakat era akhir kolonialisme Belanda dalam cerita dengan masyarakat pedesaan pasca kemerdekaan atau bahkan saat ini. Ada yang familiar dari kondisi-kondisi yang dihadirkan Koesalah dengan kondisi sosial ekonomi yang kita ketahui sekarang: kemiskinan, hubungan beracun antara lintah darat/tengkulak dengan warga, ketegangan horisontal antar masyarakat yang juga menyentuh soal etnis.

Akhir kata, buku Ibuku di Surga memberi ruang bagi kita para pembaca untuk berpikir kembali soal melihat, mendengar, juga soal kehadiran kasih ibu di tengah permasalahan pelik. Dan karena saya tak pintar membuat penutup, ada baiknya saya kembali ke kata-kata Pram:

“Jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana: biar penglihatanmu setajam mata elang, pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka dari pada para dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap-tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kemput.”

 *Tulisan ini dibuat untuk acara Bedah Buku Ibuku di Surga dalam rangka Memento dari Pramoedya dan Koesalah kerja sama Gereja Komunitas Anugerah, Yayasan Penelitian Korban Pelanggaran HAM, dan Paduan Suara Dialita (Minggu, 18 Maret 2018).

Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 24 – The Night Watch

The Night Watch – Patrick Modiano (penerjemah: Patricia Wolf, Bloomsburry 2015[1969])

Sebenarnya saya sudah sempat ingin membaca beberapa judul buku Modiano yang diterbitkan NYRB: In the Café of Lost Youth dan Young Once, tapi beberapa kali tertunda karena tyda mood (alasan yang sungguh substansial). Ditambah lagi, saya tidak terlalu familiar dengan Modiano dan gaya menulisnya. Awalnya saya sedikit ragu, apakah membaca The Night Watch terlebih dulu adalah pilihan tepat. Karena sebenarnya novel ini adalah novel kedua dari The Occupation Trilogy yang diklaim sungguh wow karna menggunakan ‘the art of memory‘. Saya sih cem nekat saja pinjam dari Mba Puri, salah satu pembaca panutan saya yang katanya jarang meminjamkan buku ke orang lain (uhuk-terharu). Toh blio berhasil menyelesaikan buku ini dan memberikan ulasan yang tidak buruk di Goodreads.

Novel pendek ini berlatarkan Perang Dunia II dan bercerita tentang seorang pria muda yang berada di dua kondisi: sebagai informan Gestapo di Prancis tentang kelompok Resistance dan juga kerjanya untuk Resistance  untuk memberikan informasi mengenai polisi dan perdagangan gelap. Saya paham plot ini karena sinopsis di balik buku, tapi ketika membacanya langsung, awalnya saya sangat kebingungan. Seolah-olah Modiano menginginkan pembacanya untuk segera catch-up dengan banyak hal. Kecepatan dialognya ngebut, detail ruangan dan atribut tokoh dilempar begitu saja; sungguh seperti dihujani objek bertubi tapi tidak ada pengantar ataupun aba-aba. Saya sempat minder: “syit, kayanya aqyu nggak bisa baca Modiano, kok aku nggak ngerti, tulung!” Tapi, paruh kedua novel ini, Modiano sepertinya mulai selow dan memberi satu-dua petunjuk ke mana arah novel ini menuju.

(Saya menenggak Vodka supaya lebih encer membaca buku ini. Ternyata lumayan berhasil #alesan #padahalmemanginginngombewe.)

Saya tidak tahu apakah pencarian identitas adalah ekspresi yang tepat, cuman memang saya mulai menangkap ada kecemasan, jika bukan kepanikan, dari si “aku” terhadap lingkungan sosial yang sejatinya berisi ingatan-ingatan campur aduk. Cara “aku” mendengarkan lagu, melihat ruang tempat ia berada, juga ketika sedang membicarakan orang-orang di sekitarnya, seperti ingin mengajak pembaca turut merasakan kelimbungan yang ia hadapi.

My indifference gives way to what English Jews call a nervous breakdown. I wander through a maze of thoughts and come to the conclusion that all these people, in their opposing camps, have secretly banded together to destroy me. 

Menurut saya, kunci buku ini bukan hanya soal ingatan, memori yang dimaterialkan secara verbal maupun lewat gerak aksi tokoh; namun lebih penting dari itu adalah bagaimana si “aku” memposisikan ingatannya ke kondisi yang sedang ia hadapi. Saya tidak bisa menangkap adegan secara utuh, siapa sedang melakukan apa, siapa sedang berinteraksi dengan siapa. Entah karena kurang telaten atau memang demikianlah, saya justru menangkap poin ini dari cara “aku” membicarakan seseorang atau sebuah tempat. Ingatannya tentang sudut-sudut kota Paris diceritakan kembali bersama dengan orang-orang yang ia kenal.

A little village, and old church tower, these described my fondest hopes. Unfortunately, I lived in a city not unlike a vast Luna Park when the Khedive and Monsieur Philibert were driving me from shooting galleries to roller coasters, from Punch and Judy shows to ‘Sirocco’ whirligigs. Finally I lay down on a bench. I wasn’t meant for such a life. I never asked anyone for anything. They had come to me. 

Saya pikir bagi mereka yang familiar dengan Paris, akan mendapati buku ini berhasil memberi nuansa tambahan. Atau jika tidak familiar, seperti saya, kamu masih bisa sedikit menikmati sedikit “luntang-lantung” (flâneur much?) si “aku” di Paris dan dua sisi politik yang saling bersebarangan. Si “aku” merasa kesesakan. Namun, di akhir buku, Modiano memberikan kesimpulan (atau mewejangi) para pembaca agar supaya tetaplah waras wahai!

20180310_233335.jpg

You lose a lot of people along the way. All those faces need to be remembered, all those meetings honoured, all the promises kept. Impossible. I quickly drove on. Fleeing the scene of crime. In a game like this you can lose yourself. Not that I’ve never known who I was. I hereby authorise my biographer to refer me simply as ‘a man’, and wish him luck. I’ve been unable to lengthen my stride, my breath, or my sentences. He won’t understand the first thing about this story. Neither do I. We’re even.

Oh iya, entah kenapa membaca ini saya merasakan pengalaman serupa seperti membaca New York Trilogy-nya Paul Auster. Apa karena tokoh “aku”-nya agak-agak mirip yak. Eh ya sudah ah~~~

Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 23 – Semasa

Semasa – Teddy W. Kusuma dan Maesy Ang (Penerbit Oak 2018)

Saya awali dengan curcol dulu. Minggu ini sungguh minggu padat dan membuat jantung senam (belum tentu) sehat. Di awal minggu saya sempat berpikir apakah mungkin menulis Siapa Tahu, tapi ketika membaca novel Semasa, saya haqeul yaqin kalau harus menuliskannya meskipun sedikit terlambat.

Semasa bercerita tentang sepasang sepupu, Coro dan Sachi, novel ini mengangkat kisah keluarga kecil dan relasi-relasi di dalamnya. Rumah masa kecil mereka berdua akan dijual. Dan layaknya sebuah objek menyimpan kenangan, semua nostalgia itu muncul satu per satu lewat suara Coro dan percakapannya dengan Sachi juga Bapak, Paman, dan Bibinya, diikuti dengan kegelisahan lain tentang masa depan yang mengikuti. Semasa seperti sebuah kolase cerita panjang. Potongan-potongan masa kecil Coro-Sachi, hubungan kakak-beradik Bapak dan Bibi Sari, rencana-rencana hari tua, yang dipadukan dengan rasa-rasa sedih, mungkin juga gembira, soal keberanjakan dan menjadi dewasa.

20180304_090909.jpg

Saya sudah menantikan novel Teddy dan Maesy sejak pertama kali mereka memberikan sneak peak di instagram tentang skrip yang mereka tulis. Sejak mengikuti tulisan-tulisan mereka di thedustysneakers (i once binge read their blog all night lol), juga beberapa kali main ke Post dan ngobrol, saya selalu merasa mereka sungguhlah panutan urip. Mereka berdua adalah pembaca yang teliti dan perseptif. Saya selalu suka tulisan Teddy yang runut dan rapi, dan ia mampu menangkap gestur kecil lalu menceritakannya dengan nuansa hangat, juga tulisan Maesy yang tegas, efektif, dan penuh keberanian untuk menilai permasalahan-permasalahan pelik yang bisa bikin sakit kepala kalau dicari solusinya. Maka ketika tahu keduanya berkolaborasi dalam fiksi, saya bertanya-tanya, sejauh apa mereka meletakkan gaya dan suara mereka.

Namun setelah menghabiskan Semasa, saya pikir pertanyaan itu tidak lagi relevan. Tentu, saya masih menebak-nebak mana tulisan Teddy, dan mana tulisan Maesy. Mungkin suara Maesy sedikit lebih lantang dalam percakapan Coro dan Sachi tentang imigrasi, ketegangan antara dunia aktivisme dan intelektualisme, juga usaha-usaha untuk memahami konflik sosial dan dunia. Suara Teddy jauh lebih terdengar di narasi Coro, tentang ia yang mengkhawatirkan Bapaknya, juga ketika menceritakan masa kecil Coro dan Sachi. Tapi di bagian-bagian akhir rasanya suara mereka melebur menjadi narasi yang hangat dingin. Gestur kecil tiap tokoh di dalamnya menenangkan, tidak jarang menjadi miris oleh narasi perpisahan dan kesepian, namun ia juga tegas dan bernas.

Pikiranku berkelana ke bagaimana hal-hal akan berjalan sesudah ini. Apa pun pilihan yang diambil, rumah akan hilang.

Di satu sisi, saya pikir ini salah satu keberhasilan Semasa. Teddy dan Maesy mampu mengombinasikan cara mereka berpikir dan bertutur untuk menampilkan konflik terdalam dalam sebuah relasi dekat tanpa harus meledak-ledak menunggu invasi alien. Ada yang berpendapat ini adalah dialektika antara keduanya. Ya mungkin, meskipun saya sendiri menganggap istilah itu kurang tepat. Semasa hadir tidak sepenuhnya untuk menginvestigasi kebenaran sebuah opini, ataupun menyelidiki kontradiksi dan mencari solusi. Ia hadir untuk bercerita dengan baik. Semasa adalah seperti percakapan tentang satu dua hal di dalam keluarga yang diceritakan ulang, di mana argumen, logika, dan alasan-alasan rasional pun membaur dengan kekecewaan dan sakit hati. Maka, jangan terkecoh oleh sinopsis di balik buku: “Kisah keluarga yang sederhana saja.” Percayalah, jika sesuatu atau seseorang mengklaim dirinya sederhana, ia tidak akan pernah sesederhana itu. Huehehe.

Di lain sisi, menulis sebuah cerita keluarga kelas menengah di Indonesia, beserta hal-hal kecil di dalamnya, menurut saya bukan perkara mudah. Antara cerita itu akan jadi sangat membosankan, karena toh kisaran relasi keluarga tidak akan jauh dari cerita-cerita yang biasa kita dengar (apalagi kalau kita juga kelas menengah), atau bisa jadi sangat menyenangkan, karena kita menjadi familiar dan merasa dekat dengan tokohnya. Novel Semasa bagi saya berada di antara keduanya. Mungkin ini komentar realistis saja, karena toh kita tidak bisa menghindari rasa bosan akan cerita yang sebenarnya tentang itu-itu saja. Sekolah, pekerjaan, urusan rumah, hubungan romantis, rencana pensiun. Rasa-rasanya kita sudah mendengar ribuan cerita serupa. Tapi tema sehari-hari yang mungkin gitu-gitu we, slice-of-life, tidak selalu buruk, bahkan bisa jadi sangat baik. Novel Burung-Burung Rantau karya Romo Mangun, misalnya, adalah salah satu contoh novel panutan untuk tema-tema semacam itu. Dan, membaca Semasa sedikit mengingatkan saya pada buku beliau itu. Apalagi keduanya sama-sama memilih tokoh yang menikah dengan orang Yunani. Saya mengakui bahwa tema novel Semasa (mungkin) membosankan, namun tulisan Teddy dan Maesy mampu menjadikan hal membosankan itu menjadi cerita yang dinamis dan bisa membuat kita berpikir lagi tentang orang-orang di rumah.