Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 13

Rope – Khairani Barokka (Nine Arches Press 2017)

Saya pertama kali mengenal Khairani Barokka dari bosque PP. Pertama kali saya membaca kumpulan puisi Indigenous Species di Inggris dan langsung jatuh hati. Saya tidak terlalu paham puisi, tapi Khairani Barokka membuat saya familiar khususnya puisi-puisi tentang alam. Buku kumpulan puisi Rope ini adalah buku kedua beliau yang saya baca persis setahun setelah Indigenous Species. Rasanya hangat sekali bisa menemukan kembali pengalaman membaca puisi beliau yang ramah. Puisi tentang alam, tubuh, diri, dan kekerasan terjalin dalam kefasihan Okka memainkan suara Bahasa Inggris, Indonesia, juga sedikit Jawa dan Minang. Saya bahkan merasa puisi beliau juga sci-fi-ish, aaa bagus sekali *tepuk tangan tepuk tangan tepuk tangan*.

Dari 48 puisi, saya sangat suka puisi “Meteorology”, “Sea Turtle/Penyu”, “Tsunami Pilgrims” yang pertama kali saya baca di Rambutan Literary, “Temple of Literature, Hanoi”, “Poetry to Self”, “Rules of Engagement”, dan “Sungai Di Pesisir/River on the Shore)”.

20171222_204550 (2).jpg

Sleepless Nights – Elizabeth Hardwick (NYRB 2011)

Dalam The Art of Fiction Paris Review no. 87 tahun 1985, Darryl Pinckney, novelis Amerika Serikat, bertanya pada Elizabeth Hardwick, “Do you fall into this [hallucinatory] state when you write fiction?” Dan jawaban beliau: I don’t fall into a state at all. Uuuuuuuuuuuu~ Artikel itulah yang menarik saya membaca Sleepless Nights, sebuah novel tentang memori urip yang dinarasikan oleh seorang perempuan bernama Elizabeth. Apakah ini memoar, esai, atau fiksi, menjadi tidak terlalu penting karena Hardwick merangkumnya dalam narasi yang membuat saya hhhh (in a good way) beberapa kali.

“IT IS JUNE,” kata Elizabeth membuka ceritanya. Jika fiksi bagus mampu meninggalkan bekas sejak kalimat pertama, maka Sleepless Nights menurut saya berhasil menancapkan premisnya. Pembukaan ini merangkum narasi besar novel ini: memanggil waktu dan segala isinya, sebuah usaha untuk mengingat. “You can take it down like a can from a shelf. Perhaps.” Memanggil ingatan tanpa melepaskan nuansa dan rasa-rasa yang mengikutinya itu tidak mudah, sering kali terjun payung dalam nostalgia sekaligus trauma. Di situlah Hardwick membawa pembaca pada kenangan-kenangan fiksi-tak-fiksi, yang menurut saya, banyak menyakitkannya tapi diceritakan dengan lugas dan, sering kali, dingin. History assaults you and if you live you are restores to the world of gossip.” Itulah mengapa kemudian sang juru cerita rasa-rasanya ingin menertawakan New York dengan segala ironi terhadap kemiskinan juga sejarahnya dengan Belanda dan Indonesia.

Apakah saya sedikit tersesat di dalam kenangan-kenangan fiksi ini? Mungkin. Hardwick, melalui narasi liris, dingin, terkadang sarkas, membuka pertanyaan-pertanyaan yang entahlah apa jawabnya. “To live in the obscuring jungle in the midst of things: close to–what? Within walking distance of all those places one never walked to.” Duh. Mungkin juga karena itulah membaca novel ini pun butuh beberapa kali perhentian. Saya kesulitan untuk tidak jadi (sok) kontemplatif tentang masa lalu dan perjalanan, termasuk berlama-lama memikirkan sebuah hubungan pertemanan yang obsesif. Sampai akhirnya saya harus berhenti sejenak, untuk memutuskan kembali di mana posisi saya, sebagai pembaca, di hadapan pertanyaan-pertanyaan itu. Geoffrey O’Brien di bagian pengantar menulis, “What the book cannot hold is lost, and even what it can hold is lost, but the book is not lost.” Yak, oke, tapi pembacanya kesasar di antah berantah, rasa aneh dari ikut mengingat memori juru cerita! Saran saya: cerna novel ini dengan perlahan, kelugasannya dapat membawamu pada keasingan.

Ice – Anna Kavan (Peter Owen Publishers 1967)

Dunia akan membeku, dan pembaca ikut membeku bersamanya. Jika dunia akan berakhir dengan perubahan iklim–global freezing menuju zaman es–kekerasan macam apa yang akan hadir? Dengan brilian, Anna Kavan tidak hanya mempersoalkan perang antar negara, krisis pangan, mata-mata, penyensoran berita. Justru, kekerasan yang secara eksplisit (dan juga menyakitkan) diceritakan oleh Kavan adalah kekerasan dalam hubungan romantis. Fuck. Dunia mau kiamat pun perempuan masih diperhadapkan pada kekerasan mental dan trauma hubungan masa lalu. “Reality had always been something of an unknown quantity at me,” kata narator, si “aku”. Situasi apokaliptik membuatnya berhadapan pada mana yang nyata, mana yang mimpi, termasuk obsesinya pada sang “gadis kaca”. Kita mengikuti perjalanan narator mencari sang gadis, termasuk berantem-berantemnya dia dengan pria lain (yang lebih berkuasa) untuk mendapatkan gadis itu. Maskulinitas beracun dinarasikan oleh Kavan dengan sangat grafis, membuat saya pribadi seperti merasakan “dingin es” yang berlipat ganda.

“Sudden terror had seized her; the thought of the man whose ice-blue eyes had a magnetic power which could deprive her of will and thrust her down into hallucination and horror.” Si “aku” memahami ketakutan gadis kaca ini, namun di sisi lain ia kebingungan bagaimana harus menghadapinya, bertahan atau meninggalkan. Pertemuan kembali mereka membangkitkan ingatan buruk dan kesakitan sang gadis, yang juga menyakiti si “aku” sekaligus meruntuhkan semua idealisme heroiknya. “Perhaps we were victims of one another.” Memang, keduanya tetap bersama, tapi justru pembacanya (saya) merasakan kesakitan aneh yang entah bagaimana harus membahasakannya. “I’m sorry….I wished I could somehow obliterate past words and actions,” kata si “aku”. Dalam konflik semacam ini, lanskap dunia yang perlahan membeku menjadi makin muram, sunyi, dan pahit. Kombinasi tema yang diangkat Kavan dan caranya bernarasi, termasuk tidak ada satu pun nama dan identitas jelas para tokoh, berhasil menciptakan kengerian ganjil. Apakah ini semua memang seharusnya menjadi mimpi buruk saja?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s