Untuk Kawan

Kawanku yang baik,

Apa kabar? Semoga selalu sehat. Sudah hampir penghujung tahun, dan sepertinya waktu terlalu menyebalkan untuk kita takar-takar. “Wah tidak terasa” adalah ekspresi omong kosong dan ungkapan basa-basi untuk menghibur diri. Antara sebuah syukur naif atau lupa kalau tahun-tahun sebelumnya mengeluh di kantor akan hari yang tak habis-habis. Eh, maaf, aku jadi nyinyir ehe, tapi sepertinya kamu pun berpikir hal yang sama. Kalau tidak ya maklumkan aku saja yang berusaha mencari-cari kesamaan di antara kita, layaknya #bestfriendzforevah.

Aku menulis ini karena tiba-tiba teringat tulisan-tulisanmu yang aku suka. Tulisan di blog, di Facebook, Twitter, kepsyen instagram, racauan Whatsapp, apapun itu. Dari ujaran fangirling aktor/aktris, penyanyi, penulis yang kamu suka, atau kamu yang sedang kesal dengan supir ojek tak tahu arah. Atau ketika kamu sedang merasa insecure dengan perjalanan akademikmu, juga dengan kehidupan romansamu. Aku menyukai puisimu, haikumu, juga tulisan-tulisan pendek-panjangmu tentang perempuan, tentang tanah, tentang sejarah, tentang kamera atau seni rupa, juga kelindan relasi kuasa. Dalam tulisan-tulisanmu itu aku mendapati banyak hal yang belum pernah ku dengar. Aku membaca buku dari penulis kesukaanmu dan mencoba tahu apa-apa saja yang kamu suka. Darimulah, kawan, aku membaca seluas-luasnya.

Hasrat untuk tahu banyak hal dengan membaca banyak hal terkadang mendatangkan kutukan tersendiri. Sebuah artikel menulis: “Perintah untuk ‘membaca seluas-luasnya’ mencerminkan etos lagi-lagi-dan-lagi dalam budaya literasi kita, tidak beda jauh seperti minuman energi. … Permasalahannya, memberi tahu penulis muda untuk membaca lintas genre dan bentuk tidak membantu mereka menemukan suara mereka sendiri. Sebaliknya, malah anti-suara. Belajar teknik menulis bukan berarti melakukan loncatan teks seperti hyperlinks. Ia membutuhkan kesetiaan dan obsesi, berlama-lama pada bahasa buku yang disukai, mendalami diri sendiri pada gaya orang lain sampai akhirnya kesadaran kita berubah warna. … ‘Membaca seluas-luasnya’–berpindah dari satu buku ke buku yang lain, dari satu penulis ke penulis lain–artinya memamerkan pikiran terbuka namun tidak pernah berhenti untuk benar-benar mengisinya. … Panggilan untuk “membaca luas” adalah sebuah kegagalan untuk membuat pertimbangan.” Mungkin ada benarnya, pembaca luas sering kali tidak punya kedalaman. Membaca sebagian Pram, sebagian Asrul Sani, sebagian Borges, sebagian Marquez, sebagian Woolf, sebagian Plath, sebagian Achebe, sebagaian Thiong’o, sebagian Le Guin, sebagian Atwood. So what? Jika aku bisa mengklaim diriku sebagai pembaca luas, akhirnya aku memang tidak punya pemahaman mendalam tentang tiap penulis. Jack/Jane-of-all-trades tak sepenuhnya bisa melihat detail dan karakteristik, yang ia tahu pada dasarnya adalah gambaran besar.

Namun, jika kita perhatikan lagi, artikel itu sepertinya diperuntukkan untuk para pembaca yang ingin jadi penulis. Bagaimana dengan aku, mungkin juga kamu, yang sebenarnya tak terlalu ingin punya teknik menulis khusus, apakah pembacaan sempit pun masih berlaku? Kalau boleh jujur, aku sebetulnya tidak pernah paham mengapa klasifikasi skala membaca menjadi begitu penting. Read widely, read narrowly, read deeply, read broadly. Menurutmu, apakah memang ada jaminan khusus yes kalau membaca sempit maka kita akan menemukan kesadaran akan suara kita sendiri? Kata artikel itu: shutter your ear against mediocrity. Bukankah dengan berpendapat seperti itu, greater-and-greater-and-greater dalam tradisi literatur menjadi tidak ada bedanya dengan more-and-more-and-more? Aku ingat kata-katamu, bahwa dengan membaca luas bukan berarti kita bisa paham banyak hal, namun paling tidak bisa membuat kita tahu bahwa suara kita tidak unik, bahwa pertimbangan kita tidak baru, sampai akhirnya membawa kita pada sikap “bitch, be humble.” Untung kamu pernah mengingatkanku pada kesimpulan Ursula K. Le Guin dalam esainya: “Seni bukanlah pacuan kuda. Sastra bukanlah Olimpiade. The hell with The Great American Novel. Kita memiliki semua novel hebat yang kita butuhkan sekarang—dan saat ini beberapa orang, laki-laki dan perempuan, sedang menulis novel baru, novel yang kita tidak tahu apakah kita akan membutuhkannya sampai kita membacanya.” Uh yeah, tos!

Aku pikir, sebagai pembaca kita tetap bisa menentukan cerita mana yang menurut kita bagus dan mau kita baca. Seperti katamu beberapa waktu lalu, menjadi pembaca luas bukan berarti menjadi pembaca apologetik. Kita boleh-boleh saja menolak membaca karya seorang penulis, atau berpendapat tentang buruknya sebuah fiksi. Aku sepakat, dan jika boleh menambahkan, mungkin kita bisa sedikit meniru Eka Kurniawan(?) Menurutku, ia adalah seorang pembaca dalam dan luas. Di satu sisi, Kurniawan selalu punya ruang lebih mendalam untuk membahas penulis-penulis yang ia suka seperti Gabriel Garcia Marquez, Knut Hamsun, dan Fyodor Dostoevsky. Bahkan beberapa ulasannya terhadap buku-buku lain yang ia baca pun terkait dengan ketiga penulis itu. Di lain sisi, ia pun jelas terbuka untuk berbagai macam bacaan. Aku mengenal Bruno Schulz dan Sasha Solokov dari ulasan-ulasannya, tapi pun tidak menemukan Paulo Coelho (di tulisan ini ia hanya bilang kalau pernah membaca The Alchemist dan memilih untuk tidak membaca bukunya yang lain hehe-hehe). Aku pikir cara seperti ini bisa sedikit dijiplak walaupun tidak harus ngeteplek. Kawan, aku tidak ingin jadi penulis, tapi aku ingin sekali jadi pembaca sepertinya, sepertimu.

Akhirnya, melalui racauan ini aku ingin berterima kasih. Ya, padamu yang mengingatkanku untuk terus membaca juga mendengar. Teruslah bercerita tentang apapun, membagi apapun, cerita di jalan atau buku yang kamu pinjam di perpustakaan, cerita tentangmu atau kesayanganmu, ketakutan juga keberhasilanmu, mungkin juga soal antah berantah, kisah kasih tak sampai (uhuk), atau pekerjaan yang menyesakkan. Dan mungkin suatu saat nanti kita bisa bertemu, membaca bersama sembari minum alkohol atau wedang jahe.

Salam,
Kawanmu20171219_185028

One thought on “Untuk Kawan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s