Siapa Tahu Kamu Mau Baca, Ep. 03

Bacaan pekan ini. Semoga berguna.

Muslihat Musang Emas oleh Yusi Avianto Pareanom (Penerbit Banana, 2017)

Ngenes. Mungkin itu ekspresi paling tepat setelah membaca 21 cerita pendek Mas Yusi, sembari menghela nafas panjang atau tersenyum kecut. Mungkin sebagian orang akan mengartikan ngenes sebagai kesedihan. Tapi sebenarnya tidak selalu demikian. Kalau mau dibilang, ngenes itu seperti kata sifat pemberi arti kesialan-kesialan urip. Ya mungkin itu lebih tepat. Mungkin. Kautahu bahwa dunia keras, begitu salah satu cuplikan di balik buku, dan cerita-cerita di dalamnya menggenapi sabda kuno itu. Cerita Samsara misalnya, perjalanan sang tokoh dari Kabul ke Jakarta, menggonta-ganti nama dan pekerjaan untuk menyambung hidup, semuanya berakhir tragis dengan satu aksi remeh: terbangun dari tidur karena dingin AC disertai hidung yang gatal. Saya cuman ngomong sendiri: tekke isa kaya ngono ik. Respon ini sama di cerita Alfion dan cerita terakhir Pak Pendek Anggur Orang Tua Terakhir di Dunia. Sedikit berbeda, cerita Kecerdasan dan Cairan Pekat misalnya, malah membuat saya bingung harus mengatai apa si tokoh bernama Windu. Nasib Windu di akhir cerita memang tidak jelas–apakah dia berhasil lulus ujian nasional atau tidak–tapi proses menuju ujian itu saja sudah menggelikan. Di satu sisi, Mas Yusi ingin saya menghargai inisiatif Windu untuk menjadi sedikit lebih pintar dengan percobaan minum sperma. Caranya membandingkan Windu dengan beberapa ilmuwan yang melakukan tindakan absurd untuk membuktikan asumsi, rasanya valid juga. Tapi kemudian inisiatif mulia itu diikuti usaha-usaha konyol dan rasanya ingin mengatai Windu goblok. Intinya, sepanjang pembacaan kita bisa saja dibawa pada cerita-cerita remeh sehari-hari, tapi sungguh nyata, beberapa mungkin terasa sangat dekat. Tidak semuanya berakhir dengan tragis, bahkan ada yang manis sekali (cerita b.u.d misalnya), tapi alur menuju akhir cerita memang sungguh aduhai miris.

Saya menutup buku dengan berdecak kesal dan menggumam kenapa hidup bisa begitu-begitu amat. Meskipun buku ini memang fiksi, entah kenapa saya percaya cerita itu nyata entah dialami oleh siapa. Apalagi di halaman paling akhir Mas Yusi pun menulis, “Sebagian kisah dalam buku ini saya pungut semau saya dari pengalaman kawan-kawan saya.” Nah ya kalau begitu memang jadi sulit membedakan mana yang benar pengalaman mana yang murni khayalan. Harusnya memang tak begitu pusing memikirkan apakah cerita-cerita itu benar terjadi atau tidak, dunia fiksi dapat hadir secara mandiri tanpa harus dikait-kaitkan dengan kenyataan. Tapi saking hampir realistisnya, dengan banyak nama (mis. Joko Pinurbo dan Martin Suryajaya) dan tempat (nama gang/kampung di Semarang dan Jakarta) yang familiar, saya malah jadi menebak-nebak siapa kawan Mas Yusi yang benar mengalami kejadian itu.

Di sinilah bagi saya kekuatan cerita-cerita beliau yang sekaligus sedikit mengganggu. Tidak diragukan lagi, Mas Yusi memang sangat lihai dan luwes dalam bercerita. Muslihat menyiasati nasib hidup diceritakan untuk diselami sekaligus ditertawakan bersama. Tidak semua penulis mampu membuat pembaca benar-benar terseret pada semesta manusia yang gelap itu tanpa harus jadi frustrasi. Tapi selama membaca saya mencoba mencari batasnya sejauh mana. Berita koran-koran sejenis Lampu Merah (sekarang Hijau) setiap harinya bisa menyajikan berita-berita kriminal tragis, yang saya pikir nasib beberapa orang dalam cerita Mas Yusi bisa masuk ke kategori liputan koran itu. Terhadap berita koran Lampu itu, kita bisa tertawa karena ekses judul (misal “Takut Ketauan, Jadi Spiderman Kabur Lewat Balkon Kepeleset, Jatuh dari Lantai 11”). Terhadap cerita-cerita Mas Yusi, justru kebalikannya: kita bisa tertawa karena alur apa adanya, dengan detail motivasi tokoh juga sentilan-sentilan yang terlontar begitu saja tanpa berlebihan. Di sinilah kemudian muncul dilema koran Lampu Merah saat membaca Muslihat Musang: tertawa nyeri di atas nasib orang tanpa bisa berbuat apa pun karena sekedar cerita. Mungkin kita bisa bertahan dengan peringatan, “Cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan” agar kemudian tidak terlalu serius meratapi, menangisi, atau bergembira terhadap nasib para tokoh. Tapi pertanyaanya, kapan kita harus kembali menjadi serius memikirkan mana, dari cerita-cerita itu, yang sungguh soal nasib pilihan hidup dan mana permasalahan yang melebihi itu, yang sistemis dan struktural misalnya?

Mungkin dari semua cerita, Benalu Tak Pernah Lucu-lah yang paling bisa mewakili perhatian saya ini. Memiliki anggota keluarga yang selalu merengek minta uang tapi tidak pernah menceritakan kesulitannya sendiri adalah sungguh sebuah beban hidup. Nilai tentang konsep kesatuan dalam keluarga yang tertanam dalam-dalam ternyata bisa membuat seseorang menjadi maklum dan sungkan terhadap problem free rider yang menyusahkan dirinya sendiri. Masalah ini sepet, ora lucu. Eh ya tapi mungkin ini bisa jadi saya yang terlalu serius (dan kenapa ulasan tentang kumcer ini jadi terlalu panjang yak). Hehehe. Bacalah kawan-kawan, ini buku yang sangat apik!

20171012_193610.jpg

Kebohongan Dwi Hartanto, Kebohongan Media oleh Wisnu Prasetya (Remotivi, 10 Oktober 2017)

Sosial media seminggu ini dihebohkan oleh terbukanya kebohongan-kebohongan resume Dwi Hartanto, mahasiswa Indonesia yang bersekolah di Belanda. Meskipun sanksi akademik sudah dikenakan kepada Dwi, semua orang sempat sibuk mengatai-ngatai, bahkan di salah satu instastory kawan saya ia menganjurkan agar “adek-adek” mahasiswa tidak meniru cara-cara demikian. Dari kegaduhan itu, saya pikir saya harus sepakat dengan Wisnu Prasetya yang menulis opini ini: bahwa media juga berperan terhadap menyebarnya kebohongan Dwi. Wisnu dengan cekatan mengekspos borok media terhadap narasi “keberhasilan anak bangsa” untuk mendapatkan mood publik. Artikel ini sangat baik untuk membuat kita tidak terlalu larut dari jebakan kambing hitam individu dan mampu memberikan nalar kritis untuk publik yang sering jadi target bualan media.

The Most Beautiful Death Trap oleh Ed Yong (The Atlantic, 6 Oktober 2017)

Ed Yong adalah salah satu penulis sains favorit saya. Ia selalu bisa membawakan artikel-artikel menarik tentang penemuan-penemuan sains terbaru, dengan sedikit humor dan tidak sedikit kadang membuat pembaca (paling tidak saya) bisa merasa kalau di dunia ini kita tidak ada apa-apanya. Temuan ilmu pengetahuan memang kadang bisa membuat kita lebih mawas diri kalau kita percaya tidak semua ilmu pengetahuan adalah hasil konspirasi untuk menguasai dunia. Di twitter-nya ia menuliskan bahwa sudah 11 tahun ia menjadi penulis, ribuan artikel sudah dihasilkan, dan artikel ini adalah tulisan ke-2500-nya. Luar biasa! Lebih serunya, artikel ini membahas tentang glowworms, makhluk hidup yang tinggal di dalam gua dan bercahaya. Tulisan ini tidak cuman memperkenalkan apa sebenarnya glowworms itu, dan bagaimana para peneliti berusaha mengenal siklus hidup dan cahaya mereka. Kita bisa merasakan gairah, semangat para peneliti itu ketika satu per satu memahami tentang glowworms dan keindahannya. Di penghujung artikel, Ed menutupnya dengan manis:

“The true nature of these lights is weird and perhaps even grotesque. But they are strong enough that when I look to my right, I can see my partner’s face in the darkness of the cave. And she is smiling.”

waitomo-glowworm-caves-1.jpg
Sumber: http://sites.psu.edu/natesnatureblog/wp-content/uploads/sites/6701/2013/11/waitomo-glowworm-caves-1.jpg

The Fall of the Gods oleh Anthony Azekwoh (Brittle Paper)

Selama hampir 1.5 tahun terakhir ini, saya cukup intens menekuni sastra/literatur Afrika bersamaan dengan mulai belajar teks-teks pascakolonial pembangunan. Nama-nama penulis seperti Chinua Achebe dan Ngugi wa Thiong’o mungkin adalah yang sering kita dengar, terutama karya-karya mereka yang memang menjadi titik berangkat studi literatur pascakolonial. Tapi semakin banyak menelusuri, makin banyak nama penulis-penulis hebat lain yang kadang terlewat dari fokus khalayak umum (maksudnya yang bukan sarjana sastra) seperti Thomas Mofolo yang merupakan salah satu penulis pionir dari Lesotho dengan bukunya Traveler from the East yang terbit tahun 1901; Ben Okri, penulis Nigeria, yang novelnya The Famished Road memenangkan Booker Prize tahun 1991; juga favorit saya, Ahmadou Korouma dari Pantai Gading dengan gaya penulisannya yang unik dan vulgar seperti di novel Allah is Not Obliged (gaya Korouma the devil may care indeed). Karya-karya para penulis besar itu memang tidak dapat terlepas dari narasi pascakolonial. Tapi kemudian saya jadi penasaran dengan para penulis muda, apakah mereka memiliki perspektif tentang kolonial yang serupa dengan generasi sebelumnya?

Jawabannya mungkin tidak dapat ditemukan secara instan dan tentu membutuhkan pembacaan yang lebih dalam. Namun paling tidak untuk penulis kontemporer, dalam pencarian singkat, saya bertemu dengan Anthony Azekwoh. Azekwoh adalah penulis muda berumur 17 tahun dari Nigeria, yang cerita bersambungya The Fall of the Gods diterbitkan oleh Brittle Paper (platform online sastra Afrika). Seri ini bercerita tentang dewa-dewi masyarakat Yoruba di Nigeria yang memutuskan untuk meminta tolong manusia menyelamatakan dunia. Bukan cerita yang seratus persen baru. Saya teringat kisah fantasi serupa seperti American Gods karya Neil Gaiman atau seri Percy Jackson karya Rick Riordan. Namun pencuplikan cerita terhadap konteks politik seperti kudeta tahun 1966 yang membunuh Perdana Menteri Nigeria dan menjadi salah satu pemicu perang sipil (perang Biafran) untuk kontrol minyak di Delta Nigeria, ini perlu diapresiasi. Konteks ini kemudian menjadi penting dalam pemahaman Azekwoh terhadap masyarakat kontemporer Nigeria saat ini termasuk pemahamannya terhadap tuhan. Sebagai anak muda, saya pikir Azekwoh diliputi hasrat untuk melihat generasinya menjadi agen perubahan. Di bagian empat misalnya ada kalimat yang terus diulang:

It all happens in one moment, just one. When we’re called to action, called to be heroes, called to be more. We all get the call, so the question isn’t whether or not it’ll come. The question is, when the call comes, will we be brave enough to answer it?

Meskipun panggilan ini sepertinya klise dan memungkinkan pembaca terjebak dalam sindrom kepahlawanan si protagonis, saya pikir rasa tanggung jawab yang berusaha dimunculkan ini menjadi karakter tersendiri dari cerita. Peran dewa bukan tidak ada, tapi di tangan mereka sendirilah masa depan masyarakat berada. Selain cerita, saya pikir gaya penulisan Azekwoh sangat baik, dengan prosa-prosa yang disusun puitis tapi tidak terlalu berlebihan.

Catatan: Perkembangan sastra Afrika kontemporer bukan tanpa kritik. Artikel berjudul Poverty Porn kary Richard Odour memberikan argumen yang sangat baik mengenai tren karya kontemporer Afrika yang timpang: melulu antropologis, etnografis, dan politis. Bagi Richard, karya fiksi terbatas untuk menggambarkan semua itu dan seharusnya ada ruang bagi sebuah novel untuk memiliki dunianya sendiri tanpa menjadi terlalu preskriptif. Dengan nada yang hampir serupa, artikel ini menyampaikan perhatian serupa namun berkaitan dengan hubungan penulis dengan penerbit (independen) Amerika Serikat dan Inggris.

Foto Sisi Jauh Bulan (NASA, 1959)

Berhubung episode kemarin ada cerita tentang alam semesta, saya jadi tertarik untuk berbagi foto historis ini. Dari bumi, sisi bulan yang kita lihat selalu sama karena adanya penguncian pasang (tidally locked): gravitasi bumi bekerja pada permukaan bulan sehingga gerakan bulan tersinkron persis dengan gerakan bumi. Mengapa bisa demikian? Cek video ini kalau mau penjelasan lebih soal penguncian pasang. Nah, intinya sekitar 41 persen sisi bulan tidak dapat dilihat dari bumi. Sisi itulah yang disebut sisi jauh atau sisi gelap bulan, yang kalau menurut film Transformers tempatnya robot jahat Decepticon terdampar setelah perang. Ehehehe. Jadi memang sungguh misterius. Akhirnya pada tahun 1959, pesawat antariksa Soviet, Luna 3, berhasil menangkap sisi misterius itu untuk pertama kalinya. Tentu kualitas foto waktu itu tidak sejernih seperti yang sekarang bisa kita lihat. Namun berkat foto itu, para peneliti jadi tahu kalo sisi jauh bulan memiliki permukaan yang berbeda dengan sisi dekat yang selama ini terlihat dari bumi. Mungkin lihat fotonya bisa sambil mendengarkan lagu Pink Floyd dari album Dark Side of the Moon uhuy!

First_Luna1.jpg
Sumber: https://solarsystem.nasa.gov/images/galleries/First_Luna1.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s